MNC Trijaya Mandailing Natal (18/12) (Panyabungan) – Tuberkulosis (TBC) masih jadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Data Global Tuberculosis Report 2024 mencatat Indonesia berada di urutan kedua dunia dengan jumlah kasus TBC tertinggi setelah India. Angkanya tidak kecil: sekitar 1,09 juta kasus baru dengan 125 ribu kematian setiap tahun. Pemerintah pun memasang target besar, eliminasi TBC pada 2030.
Di Mandailing Natal, upaya ke arah sana terus didorong. Yayasan Mentari Meraki Asa (YMMA) menggelar rapat validasi data bersama Dinas Kesehatan Mandailing Natal dan 14 Puskesmas, Kamis (18/12). Pertemuan ini berlangsung santai tapi serius di Elegan Coffee Shop, Sipolu-polu, Panyabungan.
Rahmad Darmawan Daulay, PMEL Staff IU YMMA Mandailing Natal, menegaskan bahwa kualitas program TBC tidak bisa dilepaskan dari kualitas data. Data yang rapi dan akurat akan memudahkan evaluasi sekaligus menentukan langkah berikutnya di lapangan.
“Koordinasi antara komunitas, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas ini penting. Kita perlu duduk bersama, menyamakan data, berbagi pengalaman di lapangan, sekaligus mencari solusi atas masalah yang masih muncul,” kata Rahmad.
Salah satu poin penting yang dibahas adalah mekanisme berbagi data dua arah antara aplikasi SITK dan SITB. Saat ini, data kasus TBC yang sudah terkonfirmasi secara bakteriologis dikirim setiap hari dari SITB ke SITK. Data tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh tim komunitas, lalu hasilnya dikirim kembali ke SITB.
Data yang dibagikan berasal dari seluruh fasilitas layanan kesehatan, mulai dari Puskesmas, klinik, rumah sakit swasta dan pemerintah, hingga laboratorium. Dengan sistem ini, pencatatan dan pelaporan menjadi lebih sinkron dan minim selisih.
Data yang sudah tervalidasi inilah yang kemudian dipakai sebagai bahan diskusi dan evaluasi bersama. Targetnya jelas: meningkatkan penemuan kasus TBC dan memastikan pasien mendapat pendampingan hingga pengobatan tuntas.
Rahmad juga menekankan bahwa rapat seperti ini tidak boleh berhenti di meja diskusi. Setiap bulan akan ada pembaruan data dan tindak lanjut atas kesepakatan yang sudah dibuat.
“Yang paling penting itu konsistensi. Ada update rutin dan ada follow up dari hasil pertemuan sebelumnya,” ujar Rahmad.
Dalam pertemuan tersebut, peserta juga membahas berbagai tantangan di lapangan, mulai dari investigasi kontak yang belum maksimal, kegiatan community outreach, hingga pendampingan pasien agar pengobatan tidak putus di tengah jalan. Dari diskusi itu, disusun rencana tindak lanjut lengkap dengan target waktu yang jelas.
Melalui koordinasi ini, YMMA bersama Dinas Kesehatan dan Puskesmas berharap upaya penanggulangan TBC di Mandailing Natal bisa berjalan lebih terarah dan berdampak nyata, sejalan dengan target eliminasi TBC nasional 2030.(Darmayanto)






