oleh

Polres Madina Beberkan Kronologi Demo di Desa Mompang Julu yang Berujung Anarkis

-Daerah-637 views

MNC Trijaya Mandailing Natal (01/07)- (Mandailing Natal) – Polres Mandailing Natal (Madina) membeberkan kronologis kerusuhan yang terjadi di Desa Mompang Julu Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Madina, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) terkait rentetan masalah Dana Desa dan BLT (Bantuan Langsung Tunai) Covid-19, yang terjadi pada hari Senin (29/6/2020).

Peristiwa tersebut berawal dari lemparan batu yang dilakukan sekelompok orang ke arah Polisi hingga menyebabkan 6 anggota Polres Madina mengalami luka lemparan batu dan saat ini mendapat perawatan di RSUD Panyabungan.

BNNCOVID19

Kapolres Madina AKBP Horas Tua Silalahi, SIK kepada wartawan, Selasa (30/6)2020) menjelaskan, sejak dimulainya aksi unjuk rasa warga pada pukul 10.00 WIB, pihaknya telah melakukan tugas dengan persuasif. Apalagi saat aksi blokade jalan tersebut banyak melibatkan anak-anak, kaum ibu yang menggendong bayi, dan para orangtua. Dan, kondisi itu tidak memungkinkan bagi kepolisian untuk melakukan tindakan keras kepada pengunjuk rasa.

Horas Tua mengungkapkan, ia beserta Wakapolres dan pejabat Polres Madina terus berupaya koordinasi dengan tokoh masyarakat juga kordinator aksi agar mau membuka blokade jalan.

“Sejak awal kami sudah memberikan pemahaman kepada pengunjuk rasa agar tidak melakukan aksi blokade jalan, karena merugikan banyak pihak. Kalaupun mau demo silahkan tapi jangan sampai memblokir jalan. Hal Itu kami sampaikan kepada mereka. Kebetulan massa banyak dari kalangan anak-anak, kaum ibu dan orangtua yang tidak memungkinkan bagi kami untuk melakukan tindakan membubarkan aksi blokade jalan,” Ungkapnya.

“Warga tidak mau membuka blokade jalan sebelum tuntutan mereka agar Kepala Desa diberhentikan. Pemkab Madina melalui pak Sekda dan lainnya sudah meminta waktu selama 5 hari untuk memproses Kepala Desa, tapi massa tetap tidak menanggapinya dan mediasi menemui jalan buntu hingga sore,” Tambah Kapolres Madina.

Selanjutnya, AKBP Horas terus melakukan usaha dan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mau membubarkan diri dan membuka blokade jalan karena sudah sore.

“Di saat kami berusaha memberikan pemahaman kepada massa sekitar pukul 17.10 WIB, tiba-tiba ada pelemparan batu dari sekelompok orang yang membuat massa kucar-kacir dan anggota kami juga kondisi saat itu tidak siap,” Jelasnya.

“Kami melihat itu bukan bagian dari masyarakat yang unjuk rasa mulai pagi. Kami melihat ini kelompok perusuh, kemungkinan ada provokator, kami tidak mengenal mereka. Karena kami tidak ada bicara dengan kelompok perusuh itu. Selama demo berlangsung kami melakukan koordinasi intens dengan kordinator aksi (Awaluddin) dan tokoh masyarakat setempat,” Kata Kapolres Madina AKBP Horas Tua Silalahi, SIK.

Dia pun menjelaskan saat pelemparan batu, personel kepolisian dalam kondisi tidak siap.

“Melihat lemparan batu kami segera membentuk formasi mengendalikan massa dalam rangka melindungi masayarakat, termasuk anggota kami yang diserang. Akhirnya Wakapolres terjebak disitu dan mobilnya tertinggal. Kami mengambil langkah untuk bertahan dan mengalah supaya masyarakat perusuh tidak memprovokasi terus. Kami mundur dan akhirnya kami tidak bisa mempertahankan mobil Wakapolres, mobil beliau dibakar massa,” Pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Ratusan warga Desa Mompang Julu Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Madina melakukan pemblokiran jalan lintas Sumatera (jalinsum) Medan – Padang, tepatnya di Desa Mompang Julu, Senin (29/6/2020) sekira pukul 10.00 WIB hingga hari berikutnya Selasa dini hari (30/6/2020).

Aksi itu juga diikuti sejumlah mahasiswa. Dalam orasi beberapa mahasiswa menjelaskan bahwa Kepala Desa Mompang Julu, Kecamatan Panyabungan Hendri Hasibuan tidak transparan dalam pengelolaan Dana Desa Anggaran T.A 2018 – 2020. Warga juga menuding ada praktik korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) dalam pelaksanaannya. Mereka juga menyoroti terkait penerima BLT masa Covid-19 dari Dana Desa.

Mereka meminta agar Kades Hendri Hasibuan mundur dari jabatannya sekaligus meminta Bupati Mandailing Natal mencabut SK Kepala Desa. Kemudian, para pedemo juga meminta para pihak penegak hukum memeriksa dan menangkap Kepala Desa tersebut.(Joki Nasition)

Komentar

News Feed