oleh

Ketua MPC PP Madina: Waspadai Bahaya Laten Komunisme

-Daerah-481 views

MNC Trijaya Mandailing Natal (01/06)(Panyabungan)- Momentum hari lahir Pancasila selayaknya kita jadikan sarana evaluasi diri (muhasabah) untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila secara historis dirumuskan sebagai dasar negara Indonesia yang digali dari nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat Indonesia. Maka sangat urgen, kolaborasi dan sinergitas masyarakat untuk membumikan nilai-nilai Pancasila dalam sendi kehidupan.

Hal itu disampaikan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kab Madina Akhmad Arjun Nasution ketika dimintai komentarnya terkait Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 01 Juni 2021 ini di Sekretariat MPC Pemuda Pancasila Jln. Willem Iskander Saba Padang Pidoli Dolok Panyabungan

ptsmmhutmadina

Arjun menyebutkan, nilai-nilai Pancasila telah disahkan sebagai dasar negara maka kewajiban bagi seluruh rakyat serta bangsa Indonesia untuk memahami, mengamalkan, dan melestarikan nilai-nilai Pancasila, dan harus dijadikan filsafat hidup yang terus berkembang dinamis dalam sosio-budaya Indonesia.

Pasalnya kata Arjun, Pancasila merupakan nilai dasar dan puncak budaya bangsa sebagai hasil perenungan atau pemikiran yang sangat mendalam dari para pendiri bangsa, sehingga nilai tersebut diyakini sebagai jiwa dan kepribadian bangsa.

“Nilai Pancasila menjadi sangat fundamental dalam memberikan watak, kepribadian, dan identitas bangsa. Jadi, kewajiban kita mengkonkretkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia melalui pengamalan yang lebih nyata” tegas Arjun yang mantan anggota DPRD Kab Madina ini.

Ditambahkan Arjun yang saat itu didampingi pengurus Zainal Arifin Simbolon, Hotmatua Siregar, S.Sos, Al-Hasan Nasution, S.Pd, Mahyuddin, SH, Roni PS Nasution, Samsul Hidayat, SPd, Nanda Nasaktion, S.Sos, Khairil Amri, SH, Aswan Lubis, S.Sos, Melda Diana Nasution, M.Pd, Ainun Mardhiyah, MA bahwa Pemuda Pancasila yang dilahirkan oleh Jenderal Besar Dr. AH Nasution pada tahun 1959 adalah ormas penyokong utama kekuatan rakyat untuk mengamankan Pancasila dari rongrongan komunisme. Dan tegas Arjun, bahwa idiologi Pancasila adalah harga final yang tak bisa ditawar-tawar. Untuk itu dia dengan tegas, mengultimatum jangan ada pihak-pihak yang berani mencoba-coba untuk mengobok-obok untuk mengganti idiologi pancasila dari dasar negara NKRI. “Kita ultimatum, bagi siapapun anasir yang berani mencoba-coba mengganti ideologi Pancasila, dengan idiologi Komunisme dll. maka akan berhadapan dengan Pemuda Pancasila dan rakyat Indonesia. Hal itu perlu diwaspadai adanya indikasi bahaya laten komunisme dengan gaya baru mereka” tegas Arjun.

selanjutnya, kata Arjun realitas di masyarakat menunjukkan nilai-nilai Pancasila mulai memudar. Indikatornya dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa yang melanggar nilai-nilai Pancasila, seperti pembunuhan, perampokan, tawuran antar-pelajar, Narkoba, Perjudian, Minuman Keras, pemerkosaan, korupsi, kolusi serta tindak kriminal dan pelanggaran hukum yang terjadi di Indonesia. “Bahkan di Madina sendiri, pemimpinnya tidak mampu memberikan tauladan dan tidak memiliki kecakapan yang mumpuni dalam managemen pemerintahan berbasis kerakyatan. Bahkan yang ada hanya sumpah dan sederet program yang sarat masalah” tegas Arjun

Bahkan, lebih miris pelanggaran terhadap nilai-nilai Pancasila banyak dilakukan oleh generasi muda Indonesia. Idealnya, kata Arjun bahwa generasi muda Indonesia adalah calon penerus bangsa, tetapi mereka malah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Keadaan ini jika dibiarkan akan mengakibatkan degradasi kelanjutan hidup bangsa yang menjurus pada generasi yang hilang (lost generation)

Memudarnya nilai-nilai Pancasila disinyalir karena pengaruh globalisasi. Akses yang mudah dan cepat terhadap penerimaan informasi dari berbagai belahan dunia tanpa filter mengakibatkan terkontaminasinya generasi muda akan budaya negatif yang merugikan.

Budaya negatif itu antara lain tata cara berpakaian, norma kesopanan, adat istiadat, dan life style yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

“Generasi muda memiliki kecenderungan mengadopsi secara mentah-mentah tanpa menyaringnya, karena mengganggap budaya asing sebagai panutan yang dianggap keren. Hal ini mengakibatkan banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh generasi muda terhadap nilai-nilai Pancasila” ujar Arjun

Apabila terus berlanjut, generasi muda dapat mengalami degradasi moral. Akibat yang terjadi adalah estafet keberlanjutan hidup bangsa yang menjadi tanggung jawab generasi muda menjadi terganggu. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan strategi untuk mencegah lunturnya nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda. Strategi yang harus dimulai dari hal terkecil dan dimulai dari diri sendiri.

“Kita harus mampu berpegang teguh kepada nilai-nilai Pancasila yang sudah menjadi jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila bisa menjadi filter atau penyaring terhadap budaya asing yang bersifat negatif dari luar. Hal-hal yang tidak sesuai dengan norma adat budaya bangsa Indonesia dapat kita hindari, sehingga kita tidak akan terpengaruh efek negatif dari budaya asing tesebut. Dan Pemuda Pancasila Kab madina telah membuktikan hal itu. Baru-baru ini kita telah memecat secara tidak hormat oknum kader kita yang nyata terlibat Narkoba”tegas Arjun

Selanjutnya, ujar Arjun perubahan mindset (pola fikir). Pemahaman terhadap Pancasila mesti dipahami bukan hanya sebagai ideologi statis yang mempersatukan, melainkan juga sebagai ideologi dinamis yang dapat menuntun bangsa dalam mencapai tujuannya. Sehingga Pancasila dapat menemukan urgensinya sebagai sumber jati diri, kepribadian, moralitas sekaligus haluan pengarah pada kesejahteraan dan keadilan bagi segenap rakyat.

Untuk itu kata Arjun, implementasi nilai Pancasila harus dipraktekkan dalam tindakan, bukan hanya tertuang dalam konsep semata. Kemudian sangat perlu kolaborasi dan sinergitas dari seluruh elemen masyarakat untuk membumikan Pancasila. (01/06)(Bakty Wijaya).

Komentar

News Feed