oleh

Inovasi, Bupati Madina Ciptakan Alat Tariaq Fayrus

-Daerah-343 views

MNC Trijaya Mandailing Natal (15/04) ( Panyabungan) – Disaat wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sedang menghantui seluruh masyarakat dunia pada umumnya dan negara Indonesia pada khususnya. Bupati Mandailing Natal (Madina) Drs H Dahlan Hasan Nasution menciptakan inovasi berupa alat yang dinamakan Tariaq Fayrus (penawar Virus, red) berguna dalam mencegah berbagai macam virus masuk ke tubuh manusia.

Tariaq Fayrus merupakan sebuah alat yang tergolong sederhana, tetapi manfaat yang dihasilkannya sangat banyak, terutama untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta membakar kalori dan kolesterol di dalam tubuh manusia.

BNNCOVID19

Berawal dari penataa tempat wisata legendaris ‘Sampuraga’ di Desa Sirambas Kecamatan Panyabungan, Madina. Yang mana beberapa waktu belakangan ini, Bupati Madina sedang menata objek wisata air panas yang sudah lama tertinggal dan tidak pernah dikembangkan itu. 

Kemudian, Bupati Madina, Drs Dahlan Hasan Nasution yang akrab disapa Bang Batu ini terfikir untuk memanfaatkan uap air panas yang nota bene mengandung belerang tersebut untuk menciptakan alat yang digunakan sebagai mediator penyaluran uap air panas untuk membakar kalori dan kolesterol.

Dari Pantauan Andalas, alat pertama yang diciptakan Bupati Madina di lokasi air panas ‘Sampuraga’ yaitu kursi yang terbuat dari olahan besi yang bisa digeser hingga ke tengah kolam air panas.  Dimana, setiap orang yang mencoba duduk di kursi itu akan merasakan uap air panas bercampur belerang sehingga keringat mendidih akan keluar.

Bupati Madina, Drs Dahlan Hasan Nasution kepada MNC Trijaya Mandailing Natal, Rabu (15/4) menjelaskan bahwa pertama tim dokter kita sudah meneliti secara ilmiah bahwa alat ini sangat bermanfaat untuk mengantisipasi beragam virus yang ada di tubuh manusia.

Kedua, masih di sekitar lokasi wisata ‘Sampuraga’. Bupati Madina juga membentuk sebuah tempat di atas sumber uap air panas bercampur belerang berupa tumpukan batu disusun rapi dan diikat dengan kawat. selebar 2 meter dengan ketinggian 1 meter dan panjangnya sekitar 100 meter. 

Dari sela-sela baru tersusun itu keluar uap air belerang yang suhunya mencapai 46 derajat. Setiap orang yang duduk di atas batu itu akan merasakan uap panas air belerang, bila bertahan sekitar 15 menit, maka keringat akan mendidih. Dan dapat dipastikan tubuh makin segar. Ini juga sudah dibuat penelitian oleh tim dokter dan memutuskan itu amat baik untuk meningkatkan anti body manusia.”ungkapnya

Kemudian, Bupati juga terinfirasi untuk membuat alat terbuat dari stainless yang dibentuk seperti tempat pembaringan. Di bawahnya ada sebuah kotak membentuk segi empat sesuai ukuran tempat pembaringan. Di dalam kotak tersebut berisi beragam rempah. Ada serai wangi, daun sirih, jahe, pandan dan rempah lainnya. Di bawahnya lagi ada kompor gas sebagai alat mediasi penyalur panas dan uap rempah-rempah. 

Setiap orang yang ingin mencoba akan naik ke tempat seperti pembaringan, lalu dibalutkan kain khusus untuk menutup semua anggota tubuh mulai dari ujung kaki sampai kepala dan yang terlihat hanya wajah. Kemudian akan berbaring ibarat orang tidur. Dengan kondisi terbaring selama 15 menit, maka akan terasa uap panas dengan wewangian dari rempah-rempah. 

Setelah duduk selama 15 menit setiap yang mencoba akan merasakan keringatnya mendidih dan uap tubuh yang wangi rempah. Pastinya yang mencobanya akan merasa tubuhnya segar dan bugar.

“Tentunya alat ini kita harap bisa membantu tugas kita menghadapi covid-19. Ini juga kami harap dapat membantu mengantisipasi beragam virus, karena alat ini bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan membakar lemak di tubuh.

Alat Ini nanti akan kami kirim ke Provinsi, dan kami harap profesor kesehatan bisa meniliti alat ini. Kalau ternyata bisa membantu masyarakat mengantisipasi berbagai macam virus, kenapa tidak diperbanyak dan bisa diberikan untuk daerah Kabupaten/Kota lain di Sumut. Soal campurannya bisa saja diperlengkap dengan rempah-rempah tradisional”.terangnya

Dahlan menambahkan, menciptakan alat yang dapat membantu mencegah penyebaran berbagai macam virus itu terinspirasi dari pola menjaga kesehatan yang diterapkan para orangtua zaman dahulu.

“Berpuluh tahun hingga beratus tahun dahulu. Jangankan dokter, bidan pun belum ada di desa. Beginilah pola menjaga kesehatan yang dilakukan para orangtua kita zaman dahulu. Termasuk saya sendiri. Sewaktu kecil kami selalu diajari orangtua untuk meningkatkan kesehatan dengan cara duduk di atas air panas yang sudah dicampur dengan rempah-rempah. Situasi Covid-19 ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk kembali ke alam. Tuhan menciptakan ini semua dengan segala manfaat yang terkandung di dalamnya. Kita saja sebagai manusia yang terkadang lalai dengan ciptaannya”.bebernya. (007)

Komentar

News Feed