oleh

Fahmi Hendrawan : Perusahaan Yang Tidak Ada Niat Mensejahterakan Madina Lebih Baik Hengkang

-Daerah-1.832 views

MNC Trijaya Mandailing Natal (27/01) (Panyabungan)- Peristiwa keracunan massal gas H2S di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang terjadi pada Senin (25/01) lalu telah menyebabkan sedikitnya 5 korban nyawa dan puluhan masyarakat lainnya harus mendapatkan perawatan medis. Selain itu, puluhan keluarga yang berdomisili di Desa Purba Julu yang merupakan Desa tetangga dari Desa Sibanggor Julu terpaksa mengungsi di Masjid Agung Nur Alannur Parbangunan karena khawatir terhadap dampak gas tersebut.

Sejauh ini diketahui, gas H2s tersebut berasal dari perusahaan panas bumi PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) yang juga beroperasi di Kecamatan Puncak Sorik Marapi.

ptsmmhutmadina

Pada Selasa (26/01) PT SMGP telah memberikan penjelasan mengenai penyebab kejadian tersebut. Hal itu dijelaskan oleh Krishna Handoyo selaku External Affairs PT SMGP kepada awak media yang menyatakan bahwa gas H2S tersebut bukan disebabkan oleh adanya kebocoran pipa, melainkan karena adanya aktivitas pembukaan sumur.

Akibat peristiwa itu, kecaman demi kecaman kian mengalir dari berbagai pihak dan kalangan yang menilai PT SMGP tidak kompeten dalam melaksanakan prosedur serta dianggap lalai dalam hal keselamatan kerja.

Kecaman tersebut juga turut dilontarkan salah satu aktivis muda Madina Fahmi Hendrawan Nainggolan S.sos yang juga merupakan Wakil Ketua Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Madina.

Pria yang akrab disapa Fahmi itu mengungkapkan kekecewaan sekaligus ultimatum kepada pihak PT SMGP tentang kejadian tersebut. Pasalnya, Fahmi menyatakan bahwa bukan sekali ini saja aktivitas perusahaan yang berujung adanya korban nyawa.

“Kita sangat menyesalkan kejadian ini, seperti yang kita ketahui PT SMGP adalah perusahaan besar dengan induk KS ORKA yang notabene-nya adalah perusahaan multinasional. Bayangkan bagaimana perusahaan raksasa seperti ini melakukan kesalahan kecil (bagi pihak perusahaan) tapi sangat berbahaya bagi keselamatan masyarakat. Dan ingat, ini bukan pertama kalinya aktivitas perusahaan mengganggu ketertiban masyarakat. Masih melekat di ingatan kita tentang insiden Maga dahulu, ada juga kasus meninggalnya dua santri Musthafawiyah karena tenggelam beberapa waktu lalu. Ditambah lagi kita juga mendengar info bahwa sering terjadi kebocoran pipa , serta beberapa kasus lainnya. Ini kesalahan yang sangat fatal,” jelas Fahmi.

“Dan jika memang benar insiden ini disebabkan oleh adanya aktivitas pembukaan sumur seperti yang diterangkan oleh pihak perusahaan, bagaimana tentang sosialisasi dan himbauannya kepada masyarakat sekitar? Kenapa tidak ada? Dan jika ada, bagaimana tingkat efektifitas serta pemahaman masyarakat? Perusaahan harus terbuka dengan persoalan ini,” lanjutnya lagi.

Kemudian Fahmi juga menyampaikan dukungannya terhadap keputusan Kementrian ESDM Republik Indonesia yang responsif dan menyatakan telah menerbitkan Surat penghentian sementara terhadap seluruh kegiatan atau aktivitas PT SMGP, termasuk penghentian Operasi PLTP Unit I (45 MW), kegiatan pengeboran dengan 2 unit rig, dan seluruh aktivitas pengembangan PLTP unit II.

“Kita mendukung keputusan Kementrian ESDM yang responsif dengan menghentikan seluruh aktivitas PT SMGP, karena selain dari segi psikologi masyarakat yang masih trauma, dikhawatirkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan jika perusahaan tetap beroperasi,” jelas Fahmi.

“Bahkan akan lebih baik jika Presiden RI bapak Joko Widodo melalui instansi terkait mengkaji ulang soal perizinan dan keberlangsungan perusahaan ini,” sambung pria jebolan Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) ini.

“Dan ultimatum kita ini juga berlaku bagi seluruh perusahaan yang beroperasi maupun yang hendak menginjakkan kaki di Bumi Gordang Sambilan. Kita tidak mau perusahaan yang hanya akan mengeruk hasil alam tapi mengesampingkan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Jika tak ada niat mensejahterakan hengkang saja dari Madina,” tegas Fahmi.

Terakhir, Fahmi juga menyampaikan bela sungkawa terhadap korban keracunan akibat peristiwa yang tak pernah diinginkan tersebut.

“Baik saya pribadi maupun selaku keluarga besar DPD KNPI Madina turut berduka cita sedalam-dalamnya atas persitiwa ini. Semoga kita semua khususnya saudara kita selaku pihak keluarga diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Peristiwa ini adalah duka kita semua. Dan kita berharap semua pihak agar dapat menahan diri dan tidak terpancing hal hal yang bersifat provikatif,” pungkas Fahmi mengakhiri.(27/01)(Bakty Wijaya)

Komentar

News Feed