oleh

4 Desa Di Kecamatan MBG Tolak Aktifitas Tambang Di Sungai Parlampungan

-Daerah-355 views

MNC Trijaya Mandailing Natal (22/12) (Muara Batang Gadis) – Akibat dapat merusak lingkungan dan pertanian, seluruh masyarakat Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) wilayah Siualangaling, sepakat menolak tambang emas ilegal menggunakan excavator yang beraktifitas di sungai Parlampungan.

Surat keberatan yang dikeluarkan 4 Desa yang ada di wilayah Siulangaling Kecamatan MBG yakni Desa Lubuk Kapundung II, Desa Hutaimbaru, Desa Ranto Panjang dan Desa Lubuk Kapundung nomor 141/199/KD-LK II/XII/2020 dan nomor 141/237/KD-HT/XII/2020, 141/289/KD-RTP/XII/2020 dan 221/KD-LK/XII/2020 menyatakan penolakan bersama atas nama unsur masyarakat yang terdiri dari Aparat Pemerintahan Desa, BPD, Tokoh Masyarakat, Alim Ulama, Naposo Bulung beserta mahasiswa yang berada di wilayah Sulangaling menolak bersama adanya tambang liar yang terjadi di wilayah Sulangaling dan sekitarnya.

SOMAN

Tambang Ilegal menggunakan excavator tersebut saat ini sedang beroperasi di pinggiran sungai parlampungan Desa Lubuk Kapundung II berbatasan dengan Desa Hutaimbaru”.ujar Izhar Pulungan salah seorang warga Siulangaling yang juga seorang mahasiswa di Univeesitas Nasional Jakarta (UNJ) kepada Topmetro.News, Selasa (22/12/2020).

Izhar juga menegaskan, untuk menyelematkan lingkungan serta pertanian di desanya. beliau akan melakukan aksi unjukbrasa damai ke Mabes Polri dalam waktu dekat ini.

“bersama rekan-rekan juang setelah selesai liburan pada bulan Januari 2021 nanti, rencananya kita akan melakukan aksi unjukrasa di deoan masbes Polri untuk menyuarakan penolakan aktifitas tambang ilegal yang menggunakan excavator ini”.tegasnya 

Isi Surat Penolakan Tambang Ilegal

Kami atas nama seluruh elemen masyarakat wilayah Sulangaling datang kehadapan bapak/ibu mengajukan keberatan atas adanya tambang emas ilegal menggunakan excavator yang mulai sejak 18 Desember 2020 yang diduga berlokasi di kebun milik Ali Imran di pinggiran sungai Parlampungan Desa Lubuk Kapundung II yang berbatasan Desa Hutaimbaru.

Masyarakat telah merasakan keresahan atas terjadinya tambang ilegal tersebut mengingat hal tersebut akan merusak lingkungan dan akan membawa efek kerusakan pertanian, terjadinya pendangkalan sungai, keruhnya air sungai yang merupakan sumber air minum masyarakat, tempat mandi dan cuci, ancaman banjir bandang dan tanah longsor serta terancamnya kelestarian ikan yang salah satunya mata pencaharian masyarakat Sulangaling.

Untuk menghindari ancaman tersebut, kami berharap kepada Kapolres Mandailing Natal kiranya dapat menghentikan tambang liar di wilayah Sulangaling dan sekitarnya dan kiranya bapak secepatnya memanggil oknum atas nama Darman warga Padang Sidimpuan, Iskandar Pulungan, Sajo Hasibuan dan Ali Amran warga Desa Lubuk Kapundung yang bertugas sebagai kordinator untuk dapat mempertanggungjawabkan atas perilaku pengerusakan lingkungan yang telah meresahkan hati masyarakat.

Dilihat dari surat penolakan tersebut ditandatangani oleh 4 Kepala Desa yakni Adanan Lubis, Sakti Pulungan, Hairal dan Anuddin Pulungan. Begitupun juga, surat ditembuskan kepada Kapolri, Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur Sumatera Utara, Kapoldasu, Bupati Madina, Kapolres Madina dan Kapolsek MBG.

Dapat diketahui, Bukan hanya di daerah Sulangaling, lebih parahnya pembiaran tambang emas ilegal menggunakan excavator di Kecamatan Batang Natal tepatnya di Desa Muara Soma sudah berlangsung lama, ekosistem air dan gunung tidak dipedulikan. Ratusan excavator beroperasi siang dan malam hari. (007)

Komentar

News Feed